Wys tans plasings met die etiket kisah. Wys alle plasings
Wys tans plasings met die etiket kisah. Wys alle plasings

Tatkala senja kelabu menyapa toreh luka yang terdahulu. Kembali hati ini tersusupi oleh sapaan dingin angin. Terbalut getaran indah dalam kemasan hati.
Apakah dirimu merasakan syahdunya sesuatu yang dijuluki rindu?
Gerimis ini seolah Allah kirim untuk kembali mengingatkanku padamu. Sesosok anak manusia yang pernah menjadi bagian di sudut hatiku. Kunikmati setiap alunan rintik-rintik yang semakin deras. Semakin jauh lamunanku tentangmu. Tak mampu kupungkiri bahwa hati ini selalu haus oleh bayangmu. Jiwa ini selalu merindu. Pikiranku selalu mengenangmu. Lidah ini tak pernah kelu menyebut namamu. Hujan senja kini kian mengada lebatnya. Sementara lukisan kenangan tentang kita semakin jelas di memori ingatanku. Tak kuasa kumengendalikan gejolak hati.
Tatkala hati ini sedang mencinta
Sedang hati masih dalam kepalan takdirMu
Izinkanlah aku menyayanginya dengan keimananku padaMu
Menyayangi tanpa mengharap ia di dekatku
Izinkan aku melepasnya karena keimananku padaMu
Melepasnya tanpa memaksa lupa akan kenangan bersamanya

Dedaunan musim semi berserakan tersapu angin. Sungai di hadapanku mengalir dengan derasnya dititiki gerimis di permukaan air. Sepucuk daun poplar ikut terseret arus. Tangan mungilku segera meraih untuk menyelamatkannya. Mungkin daun ini yang mengingatkanku. Lekat-lekat sepasang mata memandangi dengan kehangatan ilusi. Tanpa makna. Tanpa arti.
Bola mataku berkaca-kaca. Samar-samar menatapi tangisan langit. Tiada daya menahan air mata. Setetes demi setetes berjatuhan. Kini bulir-bulir itu bercucuran membasahi pipi. Semua tentangmu terlalu indah untuk menjadi kenangan. Semua tentangmu terlalu sayang untuk dilupakan. Kini senja meredup. Lalu kau bisikkan cinta-cinta itu dalam ragaku. Masih juga kau balut pedihku dengan senyummu. Ingatkah engkau, aku pernah menyayangimu. Lebih dari ini.
Tangis ini semakin menjadi. Tubuh mungilku kian rapuh. Kini kuterduduk di lapangnya alam bebas. Ditemani tangisan langit yang tak kunjung mereda. Basah. Entah mengapa hujan ini kembali mengingatmu. Sosok yang selama ini telah menghilang dalam anganku. Kau masih sahabatku meski kini kutak tahu sedikitpun tentangmu.
Dua tahun yang lalu, kau menghilang tanpa kabar. Kau tinggalkan aku di saat aku merasa kian nyaman bersamamu. Kau lenyap dimakan waktu. Kau pergi membawa bahagia yang telah kita tanam bersama. Sungguh, kubahagia saat kau ada di dekatku. Kau antarkan aku untuk mengenal Tuhanku. Kujuga bahagia kau pergi meninggalkanku. Lewat cara ini, kau tuntun aku untuk mengenal Tuhanku lebih jauh lagi.
Bukan salah cinta ketika perasaan ini ada dalam hatiku. Namun ini salahku yang tak mampu meletakkan cinta sesuai lajurNya. Argh! Bukankah selama ini aku juga telah menjaga hati yang memang seharusnya terjaga? Lalu bisikan-bisikan cinta itu kembali hadir tanpa aku memanggilnya. Ia tak pernah hilang terseret angin badai. Ia tak mati terbunuh waktu. Hujan ini mengingatkanku. Tempat ini masih mengenangmu. Aku tak berharap banyak kau akan kembali padaku.
Mungkin ini jalan yang terbaik menurutNya
kau harus pergi meninggalkanku
Sejenak menenangkan hati
Menelusuri samudera perjalanan  mimpi yang masih panjang
Teringat tentang sebuah ritual yang dahulu kau ajarkan. Ritual untuk melepas segala penatnya hati. Segera tangan ini meraih secarik kertas dan sebuah botol plastik kosong dalam tas. Perlahan aku menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Kuulang-ulang ini berkali-kali. Kini hati lebih terkondisikan kembali. Jemari merengkuh sebuah pena kesayangan, menikmati setiap goresan yang gemulai di atas kertas. Kutuliskan semua keluhan hati, ditemani sayup-sayup merdu rintikan hujan yang masih lebat.
Untukmu sahabat “Pelangi Impianku”
Lewat surat ini kutuliskan sebuah pernyataan tentang lima aksara yang terpendam di lubuk hatiku sejak aku mengenalmu. Engkau laksana minuman yang menyegarkan dan menghilangkan dahaga kalbuku.
Kurasa, cinta bagai ilham dari langit yang menerobos dada dan bersemayam dalam jiwa. Kini kuakan mati karena asmara yang telah melilit seluruh nurani. Saat pertama kali  kumengenal nama cinta, tersadar bahwa aku mencintaimu. Kurasa api neraka telah menyala bersiap memanggang nafsu ini.. Sejak kukenal cintamu, aku tiba di lembah air mata bahkan tak bisa kukatakan siapa sebenarnya diriku. Beritahu aku siapa yang bernama cinta?
Seperti angin membadai. Kutak melihatnya. Namun kumerasakannya. Merasakan kerja saat memindah gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta ini. Tak terlihat hanya terasa. Tapi dahsyat. Seperti banjir menderas. Kutak kuasa mencegahnya. Kuhanya bisa menganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia merajai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutan. Setelah itu ia kembali tenang, seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cintaku. Ia ditakdirkan menjadi makna tersantun yang menyimpan kekuasaan besar.
Seperti api menyala-nyala. Kutak kuat melawannya. Kuhanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap siapa yang disekitarnya. Dan seketika semua menjadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cintaku. Ia ditakdirkan menjadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.
Sepenggal cinta mampu mengubah dunia menjadi firdaus. Cinta juga bisa mengubah dunia menjadi sahara yang teramat tandus dan panas. Cinta, ia adalah kekuatan yang menahkodai semua kebaikan dan keburukan di mayapada.
Cintamu membuat hatiku bagai dirajam duri. Cintamu memenjarakanku pada api neraka. Bukan salahmu, mungkin karena aku tak menaruh cinta dilajurNya.
Namun, mencintaimu takkan pernah kusesali. Engkau cinta pertamaku yang mengajariku banyak hal. Kepada siapa cintaku lebih pantas dipersembahkan.            Usai sudah hati mengungkap segenap rasa, lalu segera aku menggulung secarik kertas itu penuh cinta. Mengikatnya dengan pita coklat warna kesukaanku. Lalu memasukkan ke dalam botol kaca. Kubiarkan dia lenyap ditelan derasnya aliran sungai ini. Kini hati merasa lebih damai. Selamat jalan cintaku!
. . .
Empat tahun telah berlalu. Kini aku telah tumbuh menjadi gadis berhijab yang lebih bisa mengkondisikan keadaan hati. Memaknai setiap kejadian dan mengikhlaskan apapun yang terjadi karena memang semuanya telah digariskanNya. Kubuka kembali buku yang kuberi nama “Pelangi Impian”. Lekat-lekat sepasang mata memperhatikan satu per satu mimpi yang pernah tertuliskan. Aku tersenyum bahagia, mimpi-mimpi yang dulu hanya goresan di atas kertas kini telah menjadi nyata.
Kembali kuteringat padamu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih yang paling tulus dari dalam hatiku untukmu. “Pelangi Impian” itu ada sejak  diri ini mengenalmu. Kau ajarkan aku bagaimana cara bermimpi, kau semangati aku dengan balutan senyummu di atas tangisku ketika terjatuh mengejar mimpi. Nama “Pelangi Impian” pun ada terinspirasi dari kebersamaan kita.
Pelangi Impian. Kuberi nama itu agar setiap mimpiku seindah pelangi. Ia akan nampak rupanya setelah lebatnya hujan yang membasahi bumi. Hujan ibarat cucuran air mata dan keringat setiap pengorbanan dan perjuangan meraih impian. Namun pelangi tak pasti nampak setelah hujan lebat, ia menyeleksi kapan ia harus menampakkan rupanya. Semuanya indah pada waktunya. Bukan kita yang menentukan takdir, namun takdir menentukan kita. Tetapi bukan berarti kita hanya diam menanti takdir, akukan yang terbaik semampu kita.
Kembali kutuliskan sepucuk surat,  “Hai sahabat -pelangi impianku-, terima kasih kau ajarkan semua ini padaku. Kini mimpi-mimpiku menjadi nyata. Kini aku telah menjadi mahasiswi kedokteran di sebuah negeri penjajah yang dulu kuimpikan dan karya tulisku semakin bertambah. Semua berjalan sesuai harapan dan takdirNya. Bagaimana kabarmu di sana? Meskipun kau tak mungkin membaca ini, tapi kupercaya Tuhan membisikkan apa yang kutulis padamu.Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu dimanapun kau berada. Salam rindu. Sahabatmu, Amirah.” Kugulung dan membiarkan ia pergi bersama aliran sungai itu lagi. Kini aku benar-benar bisa tersenyum bahagia, sangat bahagia.
Kembali kuarungi perjalanan yang masih panjang. Jalan yang kian terhampar di depan pelupuk mata. Kucoba buka lembaran baru. Baru, bersih, putih tanpa namamu. Aku tak melupakanmu. Hanya saja aku belajar meletakkan cintamu sesuai lajurNya. 
Waktu yang terus berputar
Jarak yang begitu jauh terhampar
Merekalah yang nantinya akan menyingkap sebuah rahasia besar
Akankah cinta itu tetap bertahan
dan semakin kuat ia tumbuh di sudut hati?
Atau mungkin cinta itu memudar dan mencari pelabuhan lain?
Argh, Biarlah ia tetap menjadi rahasia
hati ini dan Sang Pemilik Hati yang Hakiki


“MUTIARA TANPA CELA”
            Seperti malam biasanya. Pak Rahmad selalu mengisi malamnya dengan bermunajah pada Rabbnya. Bibirnya basah dengan bacaan dzikir. Seketika bibirnya yang komat-kamit terhenti saat gendang telinganya mendengar derap langkah kaki. Diintipnya sumber suara itu dari pintu kamarnya. Terlihat sosok laki-laki tinggi besar yang sibuk memincingkan matanya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan aman. Mengetahui kondisi tersebut, pak Rahmad menyadari bahwa pemuda itu hendak mencuri di rumahnya. ”Ya ALLAH,,, tidak ada yang bisa dicuri di rumahku. Jika memang mencuri adalah profesinya, tolong berikan hidayahMU padanya ya Rabb !!” ucap pak Rahmat sembari beranjak menuju ketempat tidurnya. Meskipun matanya masih enggan mengatup, ia paksa mata sipitnya untuk berpura-pura tidur. Memberikan kesempatan pada pemuda asing itu mencuri di rumahnya. Pemuda itu hanya celingukan mencari barang yang bisa dicuri. Sampai matanya tertuju pada sebuah peti dengan ukiran-ukiran arab yang indah dengan warna kuning keemasan. Diambilnya peti itu seraya matanya waspada dengan keadaan sekitar. Senyum puas menghiasi wajahnya. Bergegas ia langkahkan kakinya meninggalkan rumah pak Rahmat.
*****
            Udara pagi yang sejuk menambah kesegaran panorama alam. Mentari masih enggan menampakkan sinarnya. Di sebuah rumah kecil terlihat seorang pemuda menenteng peti berwarna kuning keemasan. Tak salah lagi, pemuda itu adalah pencuri yang menyusup ke rumah pak Rahmat semalam. Pemuda yang kerap di paggil Jaka itu sudah tak sabar membuka peti kecil yang diperolehnya. Matanya terbelalak melihat apa yang ada didalam peti curiannya. Hanya tumpukan kitab-kitab kuning yang ditemukannya. Hatinya menggerutu. Dikutukinya dirinya. Ia berniat membuang kitabnya. Tapi hati kecilnya enggan melakukannya. Dengan langkah malas dia beranjak menuju almari dekat ruang tamunya. Ditatanya kitab-kitab itu dialmarinya.
“Subhanallah,,, “ ucap tetangganya yang kebetulan niat bertamu kerumah jaka yang takjub.
“kenapa pak Firman?” Tanya jaka heran.
“Tak disangka mas Jaka ini pernah nyantri juga ya!!”
“Hehehe,,iya pak saya tidak mau orang-orang kampung tau saja kalau saya ini dulu pernah nyantri. Yang penting bagi saya adalah ilmu yang saya dapatkan bisa manfaat”
“Lho justru itu mas Jaka kenapa tidak mengamalkan ilmu di kampung ini. Misalnya dengan membantu mengajar diniyah atau mengisi ceramah mingguan di masjid.”
“Iya insya ALLAH pak,,”ucap jaka sembari tersenyum
“oya mas Jaka saya kesini tadi berniat mengundang mas Jaka diacara kawinan anak saya. Kalau mas Jaka tidak sibuk tolong hadir juga diacara khatamannya”
“Iya insya ALLAH pak,,” hati jaga miris dengan kebohongan yang telah diucapkannya. Jangankan khataman al-qur’an. Membaca tulisan arab saja dia belum bisa. Dia bingung apa yang harus dilakukannya.
*****
            Berita tentang Jaka telah menyebar dikampungnya. Hingga banyak orang-orang kampung dan tetangga desanya yang berbondong-bondong datang kerumahnya. Namanya sangat dikenal. Hingga semua orang memanggilnya ustad. Dirinya begitu disegani oleh warga desanya. Tapi ada yang aneh darinya. Tiap kali orang datang kerumahnya minta solusi apapun Jaka selalu menyuruhnya untuk menulis segala macam keluh-kesah mereka, dengan alas an dia sangat sibuk. Beruntung semua orang menurut. Tak ada diantara mereka yang berperasangka buruk padanya. Hal itu membuat hati Jaka semakin resah. Bingung dengan apa yang harus diperbuatnya. Tiap kali ada yang bertanya tentang apapun itu membuat Jaka terpaksa sowan ke rumah kiyai-kiyai tersohor di daerahnya. Dengan menyerahkan kertas-kertas pertanyaan dan permintaan solusi dari warga desanya. Hal tersebut terus berlangsung hingga tiap hari semakin bertambah orang-orang yang datang ke rumahnya. Dengan terpaksa Jaka lebih sering sowan ke rumah pak kiyai. Dia juga terpaksa belajar sholat dan mengaji dari salah seorag kiai yang sering disowaninya. Saking seringnya sowan ke rumah pak yai, berbagai petuah tanpa sengaja mulai dihafalnya.
            Berawal dari sebuah keterpaksaan menjadi sebuah kebiasaan. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Jaka. Sering ia kunjungi rumah-rumah kiai yang telah banyak berbagi ilmu dengannya. Bahkan ada salah seorang kiai yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Seorang kiai yang kerap disapa dengan sebutan kiai Fatih itu seorang ulama besar didaerahnya. Hal tersebut membuat Jaka berniat mengabdikan dirinya.
“Jaka !!” kiai Fatih disela-sela obrolannya dengan Jaka. Berawal dari seringnya Jaka sowan, belajar sholat dan mengaji di kediaman kiai Fatih, membuat kedekatan mereka bertambah erat.
“Iya pak yai”
“Sepertinya sudah waktunya kamu untuk menikah dan mengelola pondok pesantren”ucap pak kiai fatih to the poin tanpa ba bi bu ke Jaka.
“Ehmm,,,eh eeehmm,, anu pak yai anu,, itu saya merasa belum siap”jawab Jaka gugup.
“Jangan menunda sunah Rosul  kalau kamu memang sudah waktunya. Kalau masalah ekonomi jangan di jadikan beban.”
“Bukan begitu pak kiai. Saya meras belum pantas untuk memimpin pondok pesantren. Selain itu saya juga belum bisa menjadi imam yang baik untuk istri saya. Ditambah lagi siapa yang mau sama saya pak yai?”
“Kalau kamu bersedia saya niat menikahkan anakku Intan Nur Salsabila denganmu” Jaka hanya bungkam. Bahagia tapi sedih. Dia meresa kerdil jika harus bersanding dengan farida. Seorang wanita soleha yang hafizh qur’an. Sedangkan dia adalah mantan maling yang dianggap ustad oleh warga desannya. Belajar sholat dan mengaji karena terpaksa gara-gara semua orang menganggap dia seorang ustad. Tak seimbang rasanya jika wanita sebaik farida mendapatkan seorang suami sepertinya.
“Jaka”panggil pak kiai melenyapkan fikiran Jaka yang melayang tanpa arah.
“Iya pak kiai,, Tapi apakah saya pantas bersanding dengan putri pak kiai. Saya merasa tidak pantas pak yai. Ditambah lagi untuk memimpin poondok pesantren. Ilmu saya masih cetek dan seorang mantan preman seperti saya apa pantas pak yai menjadi pemimpin pondok pesantren.”
“Dengar ya Jaka,,, tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang pasti memiliki masalalu dalam hidupnya. Semua tergantung dari mereka ingin tetap dengan masalalunya atau ingin merubah masa depannya dengan memperbaiki kesalahannya dimasalalu. Kita ini keturunan orang yang salah. Masalah mampu atau tidak semua itu butuh proses. Jadi jangan pernah kamu merasa dirimu itu rendah. Teruslah belajar menjadi lebih baik. Aku tidak memaksamu. Fikirkanlah dulu.”
“Iya pak kiai” senyum manis mengembang diantara keduanya. Suasana kembali mencair ketika Jaka mulai bertanya a,i,u tentang kisah-kisah islami. Sesekali tawa meledak diantara keduannya.
*****
            Bintang-bintang malam mulai bertengger dalam bentangan awan hitam. Rembulan tampak begitu sempurna. Angin-angin malam menggoyangkan ranting-ranting kekokohan. Dingin mulai menelusup celah-celah kediaman penghuni alam. Tampak seorang pemuda tertunduk pasrah dalam renungan-renungan kisah masalalunya. Ia tengadahkan tangannya. Penuh penyesalan atas segala kelalaiannya. Hatinya terluka bila kisahnya menjelma bayang-bayang keburukan perangainya. Fikirannya khusyuk menulusuri kisah-kisah hidupnya. Untaian-untaian do’a pembersih dosa ia lantunkan. Butiran-butiran air mata membasahi kedua pipinya. Usai bermunajah ia ulurkan tangannya sembari mengecup kening istrinya. Jaka tersenyum bahagia melihat balasan senyum isrinya sehingga menampakkan kedua lesung pipinya.
“Mas Jaka sibuk apa tidak?”
“Ada apa ya habibati ?”
“Boleh adek minta tolong mas?’’
“Apapun yang bisa kulakukan akan ku penuhi segala pintamu ya hibabati”goda Jaka sembari mengusap lembut kedua pipi istrinya. Farida hanya tersenyum geli mendengar rayuan suaminya. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil mushaf kecil diatas almarinya.
“Adek ingin memuroja’ah hafalan adek mas,,”diulurkannya mushaf kecil itu kepada suaminya. Jaka tersenyum. Hatinya berkali-kali mengucap syukur pada Rabbnya yang telah memberikan banyak kebahagiaan padanya. Terutama istri sholehah. Merupakan hadiar terindah dan terbesar untuknya. Wanita yang dengan ikhlas menerimanya dengan masalalu buruknya. Hatinya bagai mutiara. Seorang wanita bagai mutiara dalam karang di dasar lautan. Dimana semua orang tak mampu menjangkaunya. Ia begitu terjaga maruahnya. Tutur katanya yang selalu menentramkan hati yang pendengarnya. Kerap kali Jaka menyinggung masalalu buruknya dan mengatakan bahwa wanita yang baik seharusnya mendapatkan pria yang baik pula. Namun tiap kali Jaka mengucapkan itu istrinya selalu menjawab bahwa dialah yang terbaik untuknya karena ALLAH SWT tahu yang  mana yang terbaik untuknya. Benar-benar mebuat Jaka tak henti mengucap syukur. Baginya istrinya bagaikan mutiara tanpa cela.

with my partner Faddilatusolikah

Kisah dan Kenangan

Hari ini ia pergi
Membawa pesan dari ilahi
Apakah sahabat telah mati?

Tidak! Hanya tikus yang mati
Mereka telah teracuni
Jagung hijau milik petani

Menggenggam janji
Seperti menggenggam mawar berduri
Apakah kau tahu arti sahabat sejati?

Sahabat bak burung merpati
Selalu bersama dalam keluarga inti
Selalu berbagi saat jagung berlari
Meskipun dia pergi, kelak pasti kembali

Perpisahan bukanlah akhir
Perpisahan bukan kehilangan
Hanya batas tipis antara kisah dan kenangan

Bukanlah Akhir

Kawan ku,
Jika ada saudaraku yang lain 
diantara kakak dan adikku itu pastilah kau

Saudara ku
Kita sama menyusuri ombak kecil jikala pasang
Berpanas ceria dikala terik

Sahabat ku
Kita mungkin saja pernah menghempas tangis berdua
Bertindih susah bersama-sama
Bermandi keringat tanpa jeda
Tapi aku tak kan bisa gembira tampamu di tanah baru nanti

Sahabat ku
Akan tiada lagi kita berdebat soal bulan
Tak akan pernah lagi berlomba memacu perahu
di tanah baru mungkin akan gersang tampamu

Sahabat ku
Percayalah perpisahan ini tidak membawa senang padaku
Namun ini harus kujalani
Namun kelak kita kan bersua lagi, dengan mengulang kisah-kisah kita kini.